Meskipun booming nikel menghadirkan lonjakan pertumbuhan ekonomi luar biasa bagi Sulawesi Tenggara—khususnya di Kabupaten Konawe—ini sama sekali bukan resep untuk pembangunan yang berkelanjutan. Ketergantungan penuh pada nikel justru menempatkan masa depan Konawe dalam kerentanan yang berlapis. Nikel adalah sumber daya yang tidak terbarukan dan harganya sangat dipengaruhi oleh gejolak pasar internasional. Lebih jauh lagi, eksploitasi berlebihan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius, yang pada akhirnya merugikan sektor-sektor berkelanjutan seperti pertanian dan perikanan.
RPJPN 2025–2045 juga menekankan perlunya fokus yang lebih kuat pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tingkat provinsi maupun kabupaten. Dengan pertimbangan ini, Konawe membutuhkan model ekonomi alternatif; sebuah model yang mampu menopang masyarakatnya dalam jangka panjang sekaligus meminimalkan kerusakan lingkungan.
Untuk tujuan tersebut, diversifikasi ekonomi yang tidak menumpukan pada pertambangan dan sektor ekstraktif adalah kuncinya. Dalam laporan ini, CELIOS merancang beberapa program diversifikasi ekonomi untuk Konawe serta mensimulasikan dampaknya menggunakan model IO. Program-program ini berfokus pada penguatan sektor pertanian dan perikanan, serta investasi di bidang energi terbarukan. Hasilnya menunjukkan bahwa diversifikasi ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara rata-rata sebesar 4,64% per tahun selama 20 tahun ke depan. Meski angka ini tidak sebesar lonjakan pesat yang dipicu oleh nikel, strategi diversifikasi menawarkan jalur pertumbuhan yang lebih berkelanjutan sekaligus lebih ramah lingkungan.
Although the nickel surge has delivered remarkable on-paper economic growth for Southeast Sulawesi—particularly in Konawe Regency—it is by no means a recipe for sustainable development. Relying solely on nickel puts Konawe’s future at risk. Nickel is a limited resource that will eventually be depleted and whose value depends heavily on fluctuations in international markets. Moreover, overexploitation could cause significant environmental degradation, which in turn would harm more sustainable sectors such as agriculture and fisheries.
The RPJPN 2025–2045 also mandates a stronger focus on sustainable economic growth at both provincial and regency levels. With this in mind, an alternative economic model for Konawe must be designed; one that can consistently support its people over the long term while minimizing environmental damage.
For this purpose, economic diversification that places far less emphasis on mining and extractive industries is essential. In this report, CELIOS outlines several potential diversification programs for Konawe and simulates their impact using an IO model. These programs focus on strengthening the agricultural and fisheries sectors, alongside investments in renewable energy. The results suggest that such diversification could increase Southeast Sulawesi’s economic growth by an average of 4.64% annually over the next 20 years. While this figure may not match the rapid, nickel-driven boom, it offers a growth path that is both sustainable and less environmentally destructive.