Buku ini merekam konflik penguasaan sumber kehidupan di sejumlah wilayah Jawa Timur melalui tiga bagian utama. Bagian pertama mengangkat ketimpangan agraria di Ijen, Bondowoso, tempat buruh perkebunan dan petani hidup selama beberapa generasi tanpa kepastian hak atas tanah, serta menghadapi konflik dengan perkebunan negara dan ekspansi proyek panas bumi.
Bagian kedua membahas krisis air di Kota Batu. Air yang semestinya menjadi milik bersama berubah menjadi komoditas yang dikuasai segelintir orang. Pada saat yang sama, industri pariwisata dan proyek panas bumi di Arjuno-Welirang serta Songgoriti mengancam mata air yang menjadi sumber penghidupan, identitas, dan kebudayaan masyarakat.
Bagian ketiga menggambarkan sengkarut infrastruktur energi di Tapal Kuda, Gunung Pandan, dan Gunung Wilis. Dari perkebunan kolonial, PLTU, co-firing biomassa, hingga proyek panas bumi, ekstraktivisme terus berganti wajah tetapi mempertahankan pola yang sama: perampasan ruang hidup dan penyingkiran masyarakat.
Keseluruhan buku ini mengajukan satu pertanyaan mendasar: siapa yang berhak menguasai sumber kehidupan? Tanah, air, hutan, dan energi menjadi arena perebutan antara negara dan korporasi dengan masyarakat yang menggantungkan hidup serta kebudayaannya pada wilayah tersebut.