Di tengah tuntutan global untuk menurunkan emisi, Indonesia justru berpotensi meningkatkan emisi mencapai dua kali lipat hanya dengan menjalankan megaproyek food estate di Merauke. Penebangan hutan seluas 2 juta hektar di Merauke berpotensi menciptakan gelombang penambahan emisi karbon sebesar 782,45 juta ton CO₂ atau setara kerugian karbon Rp47,73 triliun. Akibat proyek food estate di Merauke, Indonesia kemungkinan akan meleset sekitar 5 hingga 10 tahun dari target Net Zero Emission pada tahun 2050.
Promosi food estate sebagai investasi ketahanan pangan dan energi, nyatanya meningkatkan deforestasi secara masif dan mengancam tata ruang lingkungan di Merauke. Lebih jauh, daya lindung dukungan tak pernah dihitung dan masyarakat Papua tak pernah dilibatkan secara inklusif dalam food estate.
Sudah saatnya Indonesia berganti haluan untuk mengambangkan ekonomi restoratif yang berpotensi menekan emisi Indonesia sekitar 1-2%. Menjaga hutan dan mengembangkan produk berkelanjutan tidak hanya menghindari gelombang deforestasi, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai penyangga strategis penyerapan karbon global. Jika skenario ekonomi restoratif diterapkan, Indonesia dapat menghindari emisi besar yang dihasilkan oleh proyek food estate, sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem dan berkontribusi pada penanggulangan krisis iklim.
Amid global pressures to reduce emissions, Indonesia risks doubling its carbon output by proceeding with the megaproyect food estate in Merauke. Clearing 2 million hectares of forest there could generate an estimated 782.45 million tons of CO₂, equivalent to a carbon loss of IDR 47.73 trillion. As a result, Indonesia may miss its Net Zero Emission target for 2050 by 5 to 10 years.
Although the food estate is promoted as an investment in food and energy security, it drives massive deforestation and threatens the environmental spatial planning in Merauke. Moreover, the protective value of local ecosystems has never been properly accounted for, and Papuan communities have not been meaningfully included in the planning or implementation of the project.
It is time for Indonesia to pivot toward a restorative economy, which could reduce national emissions by around 1-2%. Protecting forests and developing sustainable products not only prevents large-scale deforestation but also positions Indonesia as a strategic global carbon sink. By adopting a restorative economic approach, the country can avoid the heavy emissions associated with the food estate, maintain ecosystem balance, and contribute significantly to addressing the climate crisis.