Kebijakan transisi energi Indonesia masih dinilai tidak cukup ambisius karena membuka ruang bagi berbagai solusi palsu, seperti teknologi CCS/CCUS, bioenergi berbasis kelapa sawit, serta perluasan gas dan nuklir. Greenpeace bersama CELIOS meluncurkan laporan yang menyoroti bahaya penggunaan gas fosil sebagai energi transisi, yang justru berpotensi menghambat pencapaian target energi bersih.
Temuan laporan ini menunjukkan bahwa ekspansi pembangkit gas fosil akan menimbulkan kerugian besar bagi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. Secara akumulatif hingga 2040, output ekonomi diperkirakan turun Rp941,4 triliun, dengan risiko kehilangan hingga 6,7 juta lapangan kerja. Dari sisi lingkungan, skenario 22 GW pembangkit gas fosil akan memicu tambahan emisi CO₂ sebesar 49,02 juta ton per tahun serta beban kesehatan masyarakat hingga Rp249,8 triliun dalam 15 tahun mendatang. Sebaliknya, pengembangan energi terbarukan dapat mendorong kontribusi ekonomi positif Rp2.627 triliun dan menciptakan 20 juta lapangan kerja baru pada 2040.
Laporan ini menegaskan bahwa pemerintah seharusnya tidak bergantung pada solusi palsu yang memperpanjang ketergantungan pada energi fosil. Rekomendasi utama meliputi pembatalan rencana pembangunan pembangkit gas fosil baru dalam RUPTL 2025-2034, penyusunan peta jalan pemensiunan pembangkit berbasis gas dan fosil lainnya, serta percepatan investasi energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan angin, untuk mewujudkan transisi energi yang berkeadilan.
Indonesia’s energy transition policy is still considered insufficiently ambitious, as it accommodates several false solutions such as CCS/CCUS, palm oil-based bioenergy, and the expansion of gas and nuclear power. In response, Greenpeace Indonesia and CELIOS released a joint report highlighting the risks of using fossil gas as a so-called “transition fuel,” which in reality could stall progress toward clean energy goals.
The report finds that fossil gas expansion would bring significant economic, social, and environmental losses. By 2040, Indonesia could face a cumulative economic output decline of IDR 941.4 trillion, alongside the risk of losing up to 6.7 million jobs. Environmentally, a 22 GW fossil gas scenario would generate an additional 49.02 million tons of CO₂ annually and impose health costs of up to IDR 249.8 trillion over the next 15 years. In contrast, a strong shift toward renewable energy could add IDR 2,627 trillion to the economy and create 20 million jobs by 2040.
The study stresses that government policies should not rely on false solutions that lock Indonesia into prolonged fossil fuel dependence. Key recommendations include canceling new fossil gas projects in the upcoming RUPTL 2025-2034, developing a clear roadmap for phasing out fossil gas and other fossil-based plants, and accelerating investments in renewable energy (particularly solar and wind) to enable a just and sustainable energy transition.