CELIOS merilis “Survei China-Indonesia 2024” untuk memahami persepsi publik terhadap hubungan Indonesia dan China. Zulfikar Rakhmat, Direktur China-Indonesia Desk CELIOS, menekankan bahwa “Upaya Indonesia memperkuat peran di panggung global patut diapresiasi, namun sama pentingnya untuk mengelola kemitraan internasional dengan hati-hati, terutama dalam menghadapi risiko ketergantungan berlebihan dan potensi pengaruh politik.” Survei menunjukkan 58% responden ingin pemerintah meningkatkan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan sambil tetap menjaga kedaulatan negara.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, menyoroti sikap hati-hati Indonesia di tengah persaingan AS-China: “78% masyarakat Indonesia mendukung posisi netral dalam persaingan AS-China,” mencerminkan keinginan publik untuk menjaga otonomi nasional. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap investasi China tetap ada, dengan 44% menilai proyek infrastruktur merugikan hubungan bilateral dan 43% mengaitkan China dengan kerusakan lingkungan. Bhima menegaskan, “Isu ini perlu segera ditangani dengan memperkuat pengawasan, mendorong transparansi, melibatkan masyarakat, dan menggeser insentif fiskal ke investasi yang lebih ramah lingkungan.”
Persepsi publik tetap beragam: 66% percaya China memiliki pengaruh politik positif, dan 51% menilai China mampu memimpin dunia. Yeta Purnama, peneliti CELIOS, menekankan bahwa “meskipun China dipandang sebagai mitra penting, ada kekhawatiran signifikan terkait dampak sosial dan lingkungan dari investasi China di Indonesia.” CELIOS berharap survei ini menjadi alat tahunan untuk mendukung kebijakan yang lebih tepat, meningkatkan pemahaman publik, dan memastikan keterlibatan Indonesia dengan China di masa depan memberikan manfaat bagi semua pihak.
CELIOS released the “China-Indonesia Survey 2024” capturing public perceptions on Indonesia’s evolving ties with China. Zulfikar Rakhmat, Director of CELIOS’s China-Indonesia Desk, highlighted that “Indonesia’s drive to strengthen its role on the global stage is commendable, but it is equally crucial to manage international partnerships with care, especially in addressing concerns over excessive dependence and the potential for political influence.” The survey found 58% of respondents want the government to enhance mutually beneficial economic cooperation while safeguarding sovereignty.
Bhima Yudhistira, Executive Director of CELIOS, noted Indonesia’s cautious stance amid US-China rivalry: “78% of Indonesians support a neutral stance in the US-China rivalry,” reflecting public desire for national autonomy. At the same time, concerns persist about Chinese investments, with 44% saying infrastructure projects harm bilateral relations and 43% linking China to environmental damage. Bhima stressed, “This issue needs to be urgently addressed by strengthening safeguards, promoting transparency, ensuring community involvement, and shifting fiscal incentives towards more environmentally sustainable investments.”
Public perception remains mixed: 66% believe China exerts positive political influence, and 51% think China is capable of leading the world. Yeta Purnama, CELIOS researcher, emphasized that “while China is seen as an important partner, there are significant concerns about the social and environmental impact of Chinese investments in Indonesia.” CELIOS hopes the survey will become an annual tool to guide informed policymaking, deepen public understanding, and ensure Indonesia’s future engagement with China benefits all stakeholders.
Narahubung / Contact Person :
Yeta Purnama (081325068100)