Yogyakarta, Agustus 2024–CELIOS merilis laporan “10 Lubang Fiskal Warisan Pemerintahan Joko Widodo” yang mengidentifikasi sepuluh masalah fiskal utama Indonesia selama dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Laporan ini menyoroti stagnasi pertumbuhan ekonomi di 5,1%, pelebaran defisit anggaran dari Rp226,69 triliun menjadi Rp616,19 triliun, serta rasio utang terhadap PDB yang naik dari 24,7% menjadi 39,13%. Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, menegaskan, “Kebijakan fiskal selama satu dekade terakhir tidak menunjukkan perbaikan yang substansial dalam memperkuat basis ekonomi nasional.”
CELIOS juga menemukan bahwa pembiayaan utang selalu di atas 75% dari total anggaran, sementara investasi produktif tidak pernah lebih dari 17,5%. Proyek ambisius seperti pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara dan kereta cepat Jakarta-Bandung dinilai membebani anggaran negara. Achmad Hanif Imaduddin, peneliti CELIOS, menekankan, “Kami melihat kebutuhan mendesak untuk melakukan reformasi menyeluruh guna memastikan keberlanjutan fiskal pada masa depan.”
Laporan ini merekomendasikan reformasi fiskal, termasuk pengenaan pajak bagi orang super kaya, insentif pajak yang inklusif, serta perbaikan kualitas belanja negara melalui redesain APBN dan penguatan belanja kesehatan dan perlindungan sosial. Hanif menambahkan, “Intervensi komprehensif dan progresif diperlukan untuk menjaga stabilitas fiskal dan memastikan ekonomi Indonesia tetap tangguh.” Laporan ini diharapkan menjadi panduan bagi pembuat kebijakan untuk strategi fiskal yang lebih berkelanjutan dan adil.
CELIOS released its report, “10 Fiscal Gaps from the Joko Widodo Administration” identifying ten major fiscal challenges Indonesia faced during President Joko Widodo’s two terms. The report highlights stagnant economic growth at 5.1%, a widening budget deficit from IDR 226.69 trillion to IDR 616.19 trillion, and a debt-to-GDP ratio rising from 24.7% to 39.13%. Media Wahyudi Askar, CELIOS’ Director of Public Policy, emphasized, “Fiscal policies over the past decade have not shown substantial improvement in strengthening the national economic base.”
CELIOS also found that debt financing consistently accounted for over 75% of the total budget, while productive investment never exceeded 17.5%. Ambitious projects, such as the new capital city Nusantara and the Jakarta-Bandung high-speed railway, have added pressure on the state budget. Achmad Hanif Imaduddin, a CELIOS public policy researcher, noted, “We see an urgent need for comprehensive reforms to ensure fiscal sustainability in the future.”
The report recommends fiscal reforms including taxation for ultra-wealthy individuals, more inclusive tax incentives, and improving public spending quality through APBN redesign and strengthening health and social protection budgets. Hanif added, “Comprehensive and progressive intervention is needed to maintain fiscal stability and ensure Indonesia’s economy remains resilient.” The report is intended to guide policymakers in crafting more sustainable and equitable fiscal strategies.