Jawa, pulau terpadat di Indonesia, telah lama menanggung dampak dari aktivitas ekstraktif yang tak terkendali. Pertambangan, khususnya untuk produksi semen, telah mendorong pulau ini melampaui daya dukung ekologisnya—merusak bentang alam, mengancam sistem hidrologi, serta melemahkan mata pencaharian masyarakat sekitar. Apa yang sering disebut sebagai “pembangunan” justru sedang mendorong krisis ekologis dengan konsekuensi ekonomi dan sosial jangka panjang.
Melalui kajian ini, CELIOS menegaskan urgensi moratorium izin tambang baru di Jawa. Penghentian sementara bukan hanya kebutuhan hukum dan kebijakan, tetapi juga sebuah keharusan ekologis untuk menjaga masa depan pulau ini. Alih-alih terus menggali sumber daya alam, Jawa harus beralih menuju agenda pemulihan dan keberlanjutan. Laporan ini menunjukkan mengapa menghentikan ekspansi industri ekstraktif adalah langkah krusial menuju ekonomi yang lebih adil, tangguh, dan berorientasi pada pemulihan.
Java, the most densely populated island in Indonesia, has long borne the brunt of unchecked extractive activities. Mining, particularly for cement production, has pushed the island beyond its ecological carrying capacity—eroding landscapes, threatening water systems, and undermining the livelihoods of surrounding communities. What is often framed as “development” is in fact driving an ecological crisis with long-term economic and social costs.
Through this assessment, CELIOS underscores the urgent need for a moratorium on new mining licenses in Java. A pause is not just a legal and policy necessity, but also an ecological imperative to safeguard the island’s future. Instead of endlessly exploiting its natural resources, Java must shift toward restoration and sustainability. This report highlights why stopping the expansion of extractive industries is a critical step toward building a fairer, more resilient, and restorative economy.
