Valuation of Restorative Economic Impact: A Pathway to Overcoming Indonesia’s Economic Stalemate

Laporan CELIOS berjudul “Menghitung Dampak Ekonomi Restoratif: Jalan Keluar Kebuntuan Ekonomi” menyoroti potensi ekonomi restoratif untuk meningkatkan output ekonomi Indonesia hingga 10 kali lipat dalam 25 tahun ke depan, dari Rp203,26 triliun menjadi Rp2.208,7 triliun. Ekonomi restoratif, yang memadukan pemulihan ekosistem dengan pertumbuhan inklusif, berfokus pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menopang lebih dari 85% masyarakat Indonesia. Hasil studi menunjukkan peningkatan 1% alokasi PDB untuk inisiatif ini dapat menurunkan ketimpangan hingga 15%, meningkatkan lapangan kerja sebesar 14%, dan menurunkan tingkat morbiditas hingga 11%. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, menekankan, “Pemerintahan Prabowo bisa dorong praktik perkebunan dan perikanan berkelanjutan untuk diintegrasikan dalam pasokan MBG (Makan Bergizi Gratis), sehingga pangan lokal bisa diprioritaskan. Strategi ini bisa membantu penurunan biaya logistik MBG dan mengoptimalkan dampak ke petani serta pelaku usaha lokal.”

Studi ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi restoratif sangat bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah, termasuk insentif fiskal, program subsidi, dan regulasi keberlanjutan. Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, menegaskan, “Dalam skenario Business as Usual, potensi ekonomi lokal di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan akan terus stagnan. Namun, dengan kebijakan yang mendorong ekonomi restoratif—seperti insentif pajak, program subsidi, dan regulasi keberlanjutan—kita dapat meningkatkan output hingga lebih dari sepuluh kali lipat. Kebijakan ini akan memastikan bahwa masyarakat pedesaan, yang sering terpinggirkan, dapat ikut merasakan manfaat pembangunan ekonomi.”

Selain itu, pemberdayaan masyarakat lokal menjadi kunci distribusi pendapatan yang lebih adil. Jaya Darmawan, ekonom CELIOS, menyatakan, “Ekonomi restoratif memberikan peluang besar untuk mendistribusikan pendapatan secara lebih adil. Dalam skenario Progresif, kompensasi tenaga kerja meningkat menjadi Rp842,1 triliun pada tahun ke-25, dibandingkan dengan Rp64,9 triliun pada BAU. Distribusi pendapatan yang lebih merata tidak hanya mengurangi kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan, tetapi juga memperkuat kohesi sosial. Dengan memberdayakan masyarakat lokal melalui pelatihan teknis dan akses ke teknologi, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.” Laporan ini menekankan bahwa ekonomi restoratif adalah jalan keluar untuk menciptakan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh.

The CELIOS report titled “Valuation of Restorative Economic Impact: A Pathway to Overcoming Indonesia’s Economic Stalemate” highlights the potential of a restorative economy to boost Indonesia’s economic output tenfold over the next 25 years, from IDR 203.26 trillion to IDR 2,208.7 trillion. By combining ecosystem restoration with inclusive economic growth, this approach focuses on agriculture, forestry, and fisheries—the backbone for over 85% of Indonesia’s population. The study finds that allocating just 1% of GDP to restorative initiatives could reduce income inequality by up to 15%, increase employment by 14%, and lower morbidity rates by 11%. Bhima Yudhistira, Executive Director of CELIOS, emphasizes, “The Prabowo administration could promote sustainable farming and fisheries integrated into the MBG (Makan Bergizi Gratis) program, so local food can be prioritized. This strategy could reduce MBG logistics costs and maximize benefits to farmers and local businesses.”

The report also underscores that the success of a restorative economy depends heavily on government support, including fiscal incentives, subsidy programs, and sustainability regulations. Media Wahyudi Askar, Director of Public Policy at CELIOS, stresses, “Under a Business-as-Usual scenario, local economic potential in agriculture, forestry, and fisheries will remain stagnant. However, with policies that promote restorative economy—such as tax incentives, subsidies, and sustainability regulations—we can increase output more than tenfold. These policies will ensure that rural communities, often marginalized, can also benefit from economic development.”

Furthermore, empowering local communities is crucial for equitable income distribution. Jaya Darmawan, an economist at CELIOS, notes, “A restorative economy offers a major opportunity to distribute income more fairly. In a Progressive scenario, labor compensation rises to IDR 842.1 trillion by year 25, compared to just IDR 64.9 trillion under BAU. More equitable income distribution not only reduces urban-rural gaps but also strengthens social cohesion. By empowering local communities through technical training and access to technology, we can create more inclusive and harmonious societies.” The report emphasizes that a restorative economy provides a pathway toward a more inclusive, sustainable, and resilient Indonesian economy.

Recent Publications

The China–Indonesia Survey 2025, conducted by CELIOS, provides a comprehensive overview of

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, memberikan keterangan ahli dalam perkara Nomor

Videos

If you have missed out on our events, check out our YouTube to watch the full recording.