Setelah era nikel, pemerintah kini menaruh perhatian pada hilirisasi tembaga dan bauksit sebagai komoditas strategis bagi ekosistem baterai dan transisi energi. CELIOS melalui laporan terbarunya menegaskan pentingnya konsistensi kebijakan, terutama terkait rencana penghentian ekspor bijih mentah pada 2025. Jangan sampai wacana pembukaan kembali izin ekspor konsentrat melemahkan arah hilirisasi. Meski pembangunan smelter menghadapi kendala, evaluasi insiden seperti kebakaran di Gresik tidak boleh dijadikan alasan mundur dari target nilai tambah.
Di sisi lain, hilirisasi bauksit masih terkendala pembiayaan. Dari 12 smelter yang direncanakan, hanya empat yang beroperasi, dengan bank domestik masih enggan memberi dukungan penuh. Pemerintah perlu mendorong kemitraan strategis untuk memperkuat pendanaan, sekaligus membuka peluang penetrasi pasar global melalui produk rendah karbon. Pasar Eropa, AS, dan Jepang telah menempatkan harga premium pada logam hijau, yang bisa menjadi ceruk pasar penting bagi Indonesia.
Namun, pengolahan tembaga dan bauksit juga memunculkan risiko lingkungan, terutama karena kawasan industri masih bergantung pada PLTU batubara. Transisi ke pasokan energi bersih menjadi kebutuhan mendesak agar biaya lingkungan bisa ditekan. Rekomendasi CELIOS menekankan konsistensi kebijakan, insentif selektif, penguatan pengawasan, serta kewajiban transfer teknologi. Dengan tata kelola yang lebih transparan dan berorientasi jangka panjang, hilirisasi tembaga dan bauksit dapat benar-benar memberi nilai tambah ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
After the nickel boom, the government is shifting its focus to downstream copper and bauxite as strategic commodities for the battery ecosystem and energy transition. In its latest report, CELIOS stresses the need for consistent policies, particularly the planned ban on raw ore exports in 2025. Any attempt to reopen permits for low-value concentrate exports would undermine downstream ambitions. While smelter development faces setbacks, incidents such as the fire at the Gresik facility must be treated as lessons learned—not as an excuse to roll back value-added targets.
Bauxite downstreaming, however, remains hampered by financing challenges. Of the 12 smelters planned, only four are operational, with domestic banks reluctant to provide full support. The government must foster strategic partnerships to strengthen funding while seizing global opportunities in low-carbon metals. Premium markets in Europe, the US, and Japan are increasingly favoring green commodities, offering Indonesia a valuable entry point.
Still, copper and bauxite processing brings significant environmental risks, particularly given that industrial zones remain dependent on coal-fired power plants. Transitioning to renewable energy supply is urgent to reduce ecological costs. CELIOS recommends policy consistency, selective fiscal incentives, stronger oversight, and mandatory technology transfer. With long-term governance that is transparent and sustainable, copper and bauxite downstreaming could truly deliver added economic value without sacrificing environmental integrity.